
ORANGUTAN di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang masih dalam proses peliaran, cukup jinak. Tapi kalau mereka marah, nyaris tidak ada yang berani mendekati.
"Kekuatan seekor orangutan, sama dengan lima kekuatan lelaki dewasa," kata Sugeng. Kekuatan orangutan berada di tangannya. Apabila dia memegang sesuatu atau orang, sangat sulit untuk dilepaskan.
Rumah ranger di tiga camp --Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, Leaky-- di TNTP tidak ada yang utuh. Semuanya berantakan, pintu dan jendela rusak. Semula memakai kaca, kini seluruhnya diganti dengan kawat.
Antena radio dam peralatan menampung cahaya matahari untuk lisrik tenaga surya, dirusak. Itulah sebabnya, tiga camp itu tidak bisa lagi berkomunikasi menggunakan radio. Begitu juga dinding kaca di Ruang Informasi di Tanjung Harapan, tidak utuh lagi. Itulah sebabnya, ruangan itu selalu dikunci kecuali ada pengunjung yang ingin mencari informasi dan melihat data.
Di saat ranger tidak berada di dalam rumah, meski dikunci mereka bisa masuk dengan merusak pintu atau jendela. Selain 'menyikat' makanan yang ada, juga mengobrak-abrik seluruh isinya sehingga berantakan.
"Biasanya, mereka masuk rumah untuk mencuri makanan," kata Andreas --ranger di Camp Leaky. Meski mereka baru saja diberi makanan saat feeding. Mereka umumnya mengetahui tempat penyimpanan pisang makanannya, itulah yang utama dituju setiap mereka masuk ke dalam rumah.
Takut disuntik
Senua ranger di TNTP mengetahui kesulitan yang dihadapi orangutan 'asuhannya', terlebih lagi apabila ada yang sakit. Padahal mereka rata-rata tidak pernah mendapatkan pendidikan khusus untuk itu.
Pengetahuan dan keterampilan yang mereka peroleh lebih banyak dari pengalaman selama menggeluti dunia orangutan. Oleh karena itu mereka mengetahui dengan pasti penyakit yang diderita 'anak-anaknya' itu.
Dilihat dari gejala yang timbul pada sikap orangutan, kata Meeng, ranger di Pondok Tanggui. Tiap penyakit yang diderita, memperlihatkan gejala yang berbeda. Dari gejala itu, ranger dengan mudah mudah memberikan obat. Tetapi kesulitannya, orangutan sangat takut melihat jarum suntik.
Apabila orangutan melihat petugas membawa alat suntikan, orangutan dengan cepat menyembunyikan diri ke hutan. Meskipun orangutan tersebut sedang sakit dan belum disuntik. Umumnya orangutan selalu memberitahukan kepada semua temannya, tentang peristiwa yang dialami termasuk sakitnya rasa disuntik.
Menurut beberapa ranger, penyakit yang kebanyakan menyerang orangutan adalah pilek, batuk, kudisan dan sesak nafas. Tetapi, semua ranger sudah disiapkan untuk mengantisipasi hal itu dengan persedian sejumlah obat untuk berbagai jenis penyakit.
Apabila orangutan yang sakit itu tidak berhasil disembuhkan, petugas akan membawanya ke Klinik Satwa yang ada di Tanjung Harapan untuk menjalani perawatan yang lebih intensif.
Kepala TNTP Herry Djoko Susilo tidak membantah ketika ditanyakan tentang matinya beberapa orangutan, meskipun lebih kecil angkanya dibandingkan dengan yang berhasil diliarkan.
"Kami tidak menutupi, memang ada beberapa orangutan yang dalam proses peliaran itu mati," katanya, di Kumai.
Penyebabnya, bermacam-macam seperti sakit atau terluka parah setelah berkelahi sesamanya atau dengan binatang liar lainnya yang ada di kawasan hutan TNTP.
Orangutan yang mati itu biasanya tidak dibiarkan begitu saja atau dibuang ke hutan. Melainkan dikuburkan dengan baik di tempat yang disediakan. Di atasnya dipasang nisan berbentuk patung Dayak setinggi sekitar 50 sentimeter.
Jadi, tidak mengherankan apabila di atas sebidang tanah terpancang beberapa patung Dayak dari kayu ulin. Itu adalah kuburan orangutan, seperti yang bisa dilihat di samping rumah dinas ranger di Camp Leaky.
Senin, 03 Maret 2008
Panorama Tanjung Puting VI
Curi Makanan, Hancurkan Rumah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar