Senin, 03 Maret 2008

Panorama Tanjung Puting (III)
Mandi Sinar Rembulan dan Gemerlap Gemintang

TAMAN Nasional Tanjung Puting memiliki panorama alam yang sangat indah, apalagi di malam hari. Untuk menuju kawasan itu, satu-satunya prasarana transportasi yang dilewati adalah sungai, dengan menggunakan angkutan air berupa kelotok atau speedboat.

Jarak tempuh dari Kumai ke lokasi tidak terlalu jauh dan ke camp paling ujung --Leaky-- hanya 40 kilometer, sekitar 4,5 jam dengan kelotok.

Biayanya pun cukup murah, hanya Rp 75.000,00 per hari dengan kelotok atau Rp 100.000,00 dengan speedboat.

Untuk wisatawan yang ingin menginap, tersedia beberapa penginapan dan wisma tamu. Seperti Ekolodge di Desa Tanjung Harapan di tepi Sungai Sekonyer, yang satu kamar untuk satu malam sebesar tarifnya 50 dolar AS atau Rimba Lodge di desa yang sama. Alternatif lain adalah tidur di kelotok carteran, bagi mereka yang ingin mengubah suasana.

Tidur di atas kapal kecil [kelotok] dan di tengah hutan yang gelap gulita hanya diterangi kelap-kelip kunang-kunang --lampyridae-- benar-benar menyenangkan. Meski udara terasa dingin menusuk tulang, tidak mengurangi keindahan alam yang membentang di depan mata.

Kita bisa mandi sinar rembulan di kala purnama. Atau gemerlap gemintang yang menghiasi cakrawala, sementara bulan belum menampakkan diri dari tempat persembunyiannya di balik awan. Ditingkahi nyanyian hutan yang berasal dari aneka suara binatang penghuninya, sangat enak didengar seperti bunyi Owa-owa.

Kerik jangkrik yang bersahutan, rengekan bayi orangutan ditambah suara binatang malam lainnya dan bunyi arus sungai yang menerpa lambung kapal, menambah suasana malam semakin indah dan benar-benar romantis.

Di kala bangun di pagi hari, kita disambut dengan salam oleh kicauan burung dan sinar mentari serta udara segar tanpa polusi. Beragam jenis ikan terlihat jelas berenang di air sungai. Menikmati sarapan pagi di alam terbuka. Sebuah kehidupan yang menyenangkan.

Kapal yang kita gunakan selama perjalanan dan berada di kawasan TNTP, tidak ubahnya laksana hotel terapung. Nakhoda beserta asistennya yang bisanya sekaligus merangkap sebagai tukang masak, melayani kita dengan baik bagaikan keluarga sendiri.

Madjid, nakhoda KM Satria 02 yang dicarter selama lima hari mengeliling TNTP dan asistennya Haryadi, cukup ramah dan tidak jarang bertindak sebagai penunjuk jalan.

Kami semua mandi di sungai. Tapi bukan Sungai Sekonyer yang kental dan berwarna putih kecoklatan seperti kopi susu, karena di hulunya terjadi pencemaran dari tambang emas yang menggunakan air raksa --mercury-- melainkan Sungai Camp [Sungai Sekonyer Simpang Kanan] menuju Camp Leaky. Airnya bening berwarna hitam, tetapi bersih.

Di sungai itu banyak ikannya tetapi tidak boleh dipancing dan ditangkap dengan alat apapun. Sesuai dengan peraturan yang ditentukan di kawasan TNTP, yaitu harus menaati petunjuk petugas. Ada empat larangan yang diberlakukan yaitu membuat api yang tidak perlu, mengganggu/mengambil satwa dan tumbuhan, membawa cat, senjata api dan tajam serta membuang sampai di sembarang tempat termasuk sungai.

Untuk masuk ke kawasan TNTP, setiap pengunjung wajib memiliki surat izin dan tiket masuk yang dikeluarkan oleh Kantor TNTP di Kumai. Tiket masuk bagi wisatawan yang usianya enam tahun ke atas sebesar Rp 2.000,00 per orang per hari dan bagi pelajar, mahasiswa, dan kader konservasi Rp 1.000,00. Sedangkan bagi setiap kapal kecil Rp 2.000,00 per hari.

Hutan hujan tropis

Tanjung Puting di Kalimantan merupakan hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia. Wajar, TNTP merupakan kawasan pelestarian alam yang penting untuk melindungi satwa langka seperti orangutan, bekantan dan Owa-owa.

Kawasan itu juga merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan tropika dataran rendah [lowland tropical rainforest], hutan rawa air tawar [swamp forest], hutan bakau [mangrove forest] dan hutan pantai yang indah. Cocok untuk rekreasi dan penelitian.

Memang TNTP adalah tempat pelestarian dan suaka plasma nuftah, pendidikan, penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan dan rekreasi.

Sebagai ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah, flora TNTP didominasi oleh tanaman produktif jenis meranti [shorea sp], ramin [gonystylus bancanus] dan jelutung [dyera costulata]. Sedangkan di bagian tengahnya didominasi kayu ulin --eusideroxylon zwageri.

Semua jenis kayu itulah yang menjadi incaran penebang liar. Seperti yang ditemui di hari pertama kami berada di kawasan TNTP. Petang di ambang senja, masih terlihat sebuah rakit kayu ditambat di tepi Sungai Sekonyer. Tetapi pagi harinya, rakit itu tidak ada lagi di tempatnya.

Untuk jenis fauna selain keluarga primata, di TNTP masih dijumpai satwa langka endemik lainnya seperti beruang [helarctos malayanus], rusa [cervus unicolor]. Sungainya menyimpan buaya muara [crocodylus porosus] dan buaya sapit [tomistoma schlegelli].

Sedikitnya 220 spesies burung menjadi penghuni TNTP. Di antaranya rangkong [buceros sp] dan raja udang paruh bangau [pelargopsis capensis]. Bahkan burung langka di dunia yaitu storm's stork [ciconia stormi] sejenis bangau, konon hanya ada di TNTP. Enggang yang menjadi lambang daerah Kalteng, beterbangan di udara TNTP.

Tidak ada komentar: