Senin, 03 Maret 2008

Panorama Tanjung Puting (I)
Teriakan Tarzan Menggema di Tengah Hutan

TANJUNG Puting, sebuah kawasan tanam nasional yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat Kalteng dan sudah mendunia. Wisatawan mancanegara yang datang ke Kalimantan merasa belum lengkap apabila tidak mengunjungi lokasi rehabilitasi orangutan itu. Bahkan beberapa tahun lalu, sejumlah pakar binatang dari beberapa negara berkumpul di lokasi itu untuk membicarakan dan membahas kera besar dengan segala aspeknya. Wartawan BPost Ida Mawardi, selama lima hari berada di 'rumah' orangutan tersebut dan penjalanan itu dituangkan dalam beberapa tulisan mulai hari ini.

OUU ... ouu ... ouu ....

Raungan ala Tarzan itu, cukup mengagetkan di pagi hari pertama berada di Camp Tanjung Harapan. Rupanya suara itu adalah panggilan bagi orangutan yang akan diberi sarapan.

Beberapa menit kemudian, beberapa orangutan sudah berada menyantap pisang dan minuman susu yang disuguhkan --ranger-- pagi itu. Panggilan makan untuk orangutan di TNTP itu bisa didengar dua kali setiap hari, pagi dan menjelang petang.

"Rosemary, Ansar, Doyok, Gistok, yo ...," panggil Surian dan Meeng --ranger-- menggema di tengah hutan kawasan Camp Pondok Tanggui bergantian sambil berjalan membawa dua ember pisang menuju tempat feeding [pemberian makanan], sekitar dua kilometer dari tempat tinggal mereka.

Teriakan memanggil 'anak asuh' itu juga terdengar di Camp Leaky. Mendengar panggilan khas itu, sejumlah orangutan besar kecil, betina dan jantan, juga beberapa di antaranya membawa bayi yang bergelayut di pundak sang ibu berloncatan dari ranting ke ranting menuju arah suara.

Di tempat asal suara, berkumpul wisatawan mancanegara dan nusantara yang sengaja menunggu kedatangan penghuni hutan TNTP tersebut. Tanpa malu-malu, orangutan --pongo pygmeus-- menyantap jatah makan mereka berupa pisang lilin dan susu.

Tingkah orangutan makan, merupakan pemandangan unik dan menarik. Makhluk hutan berbulu panjang warna coklat kemerahan itu, berebutan mengambil makanan yang disediakan ranger. Sambil makan, mereka bercanda, bergelantungan di dahan membawa pisang. Bahkan ada yang menangis karena tidak kebagian.

Benar-benar pemandangan yang menakjubkan dan bisa dinikmati dua kali setiap hari.

Seekor orangutan betina bernama Frencis yang menjalani peliaran kembali di Camp Leaky, sebelum memakan pisang yang diberikan ranger terlebih dahulu diberikannya kepada bayinya yang bergayut di pundaknya. Tindakan itu cukup menyentuh perasaan. Ternyata orangutan pun lebih mengutamakan anaknya, daripada kepentingan dirinya sendiri.

Seorang wisatawan dari Amerika berdecak kagum melihatnya sambil berguman, "wow ..." dan cepat-cepat mengarahkan handycam-nya ke Frencis.

Feeding dijadualkan dua kali sehari. Pagi dari pukul 07.30 sampai 08.30 dan pukul 14.30 sampai 15.30 dengan menu tetap pisang lilin dan susu. Rata-rata camp menghabiskan tiga karung pisang lilin atau sekitar 700 kilogram dan tiga kaleng Indomilk kering, setiap minggu. Semua makanan dan minuman itu didatangkan dari Kumai dan diantar ke camp setiap Senin.

Bila feeding time tiba, ranger dengan teriakan Tarzannya memanggil 'anak buah' mereka untuk bersantap. Si 'anak' mendengar teriakan 'bapak'nya yang sudah sangat dikenal, dimana pun berada dengan cepat berdatangan.

"Semua orangutan di sini punya nama," kata Meeng, pemuda lajang yang sekitar dua tahun menjadi ranger di kawasan rehabilitasi orangutan TNTP yang ditugaskan di Camp Pondok Tanggui.

Tempat rehabilitasi orangutan di TNTP yang berada di wilayah Desa Sekonyer Kecamatan Kumai dibagi dalam tiga camp, yaitu Tanjung Harapan, Pondok Tanggui dan Leaky. Di Pondok Tanggui ada Rosemary dengan bayi angkatnya yang belum berusia dua tahun, Gistok, Doyok, Ansar dan masih banyak lagi. Di Tanjung Harapan, ada Adi, Bagus dan Devida. Di Camp Leaky, ada Siswi dengan bayinya yang belum punya nama, Frencis, Carlos, Tutut dan lainnya.

Masih ada satu camp lagi yaitu Natai Lengkuas, yang lebih merupakan areal penelitian di antaranya bekantan --nasalis larvatus.

Tidak ada komentar: