TIADA seorang pun wanita yang ingin menjadi petugas --ranger-- khususnya dalam menangani orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting. Sembilan ranger yang ditugaskan di tiga camp di taman itu, semuanya pria.
Itu wajar. Karena hampir tidak mungkin seorang wanita berdiam di hutan, apalagi mengurus orangutan dan berteriak seperti Tarzan memanggil untuk memberi makan makhluk berbulu panjang berwarna merah kecoklatan itu setiap hari. Belum lagi harus merawat dan mengobati orangutan yang sakit.
Kecuali Emilly, gadis Inggris berusia sekitar 22 tahun yang ditugaskan di Camp Tanjung Harapan di Desa Sekonyer sebagai tenaga sukarela --volunteer -- selama 11 bulan.
Itu pun dia tidak harus berteriak-teriak memanggil orangutan yang ada di camp itu, melainkan lebih pada membantu tiga ranger di tempat itu yaitu Alan, Hendrik dan Masari. Tugas Emilly membantu pekerjaan ringan, seperti memasak dan memberikan informasi kepada pengunjung terutama wisatawan mancanegara.
Itulah sebabnya Emilly menyatakan sangat senang tinggal di hutan. Karena, camp tempat Emilly bertugas itu tidak terlalu jauh dengan kota Kumai --ibukota Kecamatan Kumai-- yaitu hanya 20 kilometer sekitar 1,5 jam perjalanan dengan kelotok atau 0,5 jam dengan speedboat.
Selain itu, di seberang camp adalah pemukiman penduduk Desa Sekonyer dan hanya mendayung perahu kecil sudah bisa ke sana. Di tempat itu ada sekolah dan kantor kepala desa, juga peningapan Ekologde. Jadi tidak terlalu sepi.
Lain halnya dengan Camp Pondok Tanggui sekitar 30 kilometer dari Kumai [tiga jam perjalanan dengan kelotok] atau paling ujung Camp Leaky sekitar 40 kilometer [4,5 jam perjalanan kelotok].
Khusus di Pondok Tanjung, hanya dihuni oleh tiga ranger yaitu Sugeng, Meeng dan Surian. Berbeda dengan di Camp Leaky, meski Andreas --pemuda asal Yogyakarta-- mengurus orangutan bersama dua rekannya, di camp itu banyak penghuninya yaitu karyawan Galdikas yang melakukan penelitian.
Tanjung Harapan merupakan zona pemanfaatan dan dikembangkan untuk kegiatan ekoturisme yang dilengkapi dengan pusat informasi, wisma tamu dan lokasi untuk berkemah. Di camp ini juga dilengkapi fasilitas pemeliharaan kesehatan [klinik] satwa.
Satwa yang sakit terutama orangutan, apabila tidak bisa diobati oleh ranger segera dibawa ke klinik tersebut.
Sedangkan Pondok Tanggui khusus untuk rehabilitasi orangutan, juga merupakan habitat rusa, babi hutan dan berbagai jenis burung. Pondok Tanggui dan Tanjung Harapan dihubungkan oleh jalan setapak sepanjang sekitar 25 kilometer, yang cocok sekali untuk tracking. Sementara Camp Leaky, semula sebagai areal penelitian sejak tahun 1971 dan selanjutkan difungsikan untuk rehabilitasi orangutan. Di camp ini terdapat orangutan liar dan setengah liar.
Mekanisme kegiatan peliaran kembali orangutan di TNTP adalah, pertama di Tanjung Harapan kemudian dipindah ke Pondok Tanggui dan akhirnya ke Camp Leaky sampai benar-benar liar. Itulah sebabnya, tempat pemberian makanan --feeding-- selalu dipindah semakin masuk ke dalam hutan. Semula dekat kediaman ranger, kemudian terus dipindah sampai semakin jauh ke dalam hutan. Tujuannya, mengenalkan wilayah hutan sebagai tempat tinggal orangutan. Begitu juga tempat tinggal orangutan. Awalnya ditempatkan di dalam kandang selanjutnya 'diajarkan' cara membuat sarang sendiri di atas pohon, dengan cara melepas orangutan itu bergabung dengan yang lain.
Selain tiga camp untuk rehabilitasi, di TNTP juga ada tempat penelitian bekantan --nasalis larvatus. Lokasinya di Natai Lengkuas, sekitar 40 kilometer dari Kumai. Kawasan itu juga merupakan habitat kera abu-abu, rusa dan berbagai jenis burung.
Keempat kawasan itu bisa digunakan untuk tracking melewati jalan setapak yang disediakan.
TNTP juga memiliki objek wisata pantai yang lokasinya tidak berjauhan, yaitu Kubu dan Tanjung Keluang. Pantai Kubu dengan pohon nyiurnya dan rekreasi memancing, Tanjung Keluang dengan pasir putih dan airnya yang bening. Biasanya dijadikan tempat berjemur dan berenang oleh wisatawan.
Terus meningkat
Hampir setiap hari, TNTP menerima kunjungan wisatawan yang sebagian besar dari dalam negeri dan jumlahnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Khusus kunjungan wisatawan mancanegara, didominasi oleh Amerika serikat.
Dalam tahun 1996 saja wisatawan dari AS tercatat 717 orang, menyusul Inggris 239 pengunjung dan paling sedikit adalah dari Hongkong, hanya satu orang.
Selama kurun waktu tujuh tahun, sejak 1990 sampai 1996, sebagaimana dikatakan Kepala TNTP Herry Djoko Susilo, tercatat 19.023 pengunjung terdiri atas 7.098 wisman dan 11.925 wisnus
Senin, 03 Maret 2008
Panorama Tanjung Puting (IV)
Tidak Ada Ranger Wanita Kecuali Volunteer
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar