BERDASARKAN data, orangutan yang menghuni kawasan Taman Nasional Tanjung Puting antara 1.080 sampai 1.800 ekor. Termasuk yang setengah liar dan masih dalam proses peliaran di tiga camp --Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, Leaky.
Di Tanjung Harapan, misalnya. Saat ini terdapat sekitar 200 ekor orangutan dan yang masih dalam proses peliaran hanya empat dari 15, ekor kata Alan, petugas --ranger-- di camp itu.
Sementara di Pondok Tanggui, dari tahun 1993 sampai 1997 tercatat delapan ekor orangutan yang berhasil diliarkan dari 13 yang ditangani oleh Sugeng, Meeng dan Surian.
Namun dalam proses peliaran itu, terkesan lambat. Hampir semua ranger mengaku, dalam upaya meliarkan kembali orangutan itu mengalami hambatan yang walaupun kecil tetapi dinilai cukup mempengaruhi.
Hal itu dibenarkan oleh Kepala TNTP Herry Djoko Susilo. Menurut dia, dalam melaksanakan program peliaran kembali orangutan pihaknya agak kesulitan. Karena terjadi dua kepentingan yang bertolak belakang.
Pihak TNTP berupaya menghutankan kembali orangutan yang terlanjur jinak sesuai dengan program yang ditetapkan, sementara Birute Galdikas yang sangat mencintai orangutan mempunyai kebijaksanaan yang berbeda.
Semua tidak menutup mata, yang mempopulerkan Tanjung Puting adalah Galdikas dengan proyek penelitian orangutan melalui Research and Conservation Project, sejak tahun 1971.
Karena sangat mencintai orangutan, dia seolah tidak 'merestui' program yang dijalankan TNTP. Bahkan, terkesan tidak senang dengan kegiatan yang dilakukan ranger di lapangan. Menurut keterangan, tanpa sepengetahuan petugas dia memberi makan orangutan dengan makanan yang layaknya dikonsumsi oleh seperti nasi, mie dan lainnya, secara sembunyi-sembunyi.
Konon, masa penelitian terhadap orangutan yang diberikan kepadanya sudah berakhir.
Disadarkan orangutan
Terlepas dari semua itu, semua ranger yang bertugas di kawasan TNTP sangat menyenangi bahkan mencintai pekerjaannya.
"Orangutan yang menyadarkan saya selama ini," kata Meeng yang mengaku sangat menyayangi penghuni hutan berbulu panjang dan merah kecoklatan itu.
Semula, kata Meeng yang lulusan SLTP di Kumai itu, sebelum menjadi ranger pekerjaannya adalah menebang kayu di hutan. Karena persediaan kayu semakin sedikit dan hasilnya tidak menentukan, dia berbalik arah dengan melamar ke TNTP sebagai ranger.
Pertama ditugaskan di hutan, rata-rata ranger mengaku risih dan takut karena harus berhadapan dengan orangutan dan binatang liar lainnya yang menghuni TNTP. Tetapi setelah ditekuni, malah mencintai pekerjaan itu dan semuanya benar-benar menjaga kelestarian hutan beserta isinya.
"Saya kini menyadari menebang kayu itu perbuatan yang salah. Orangutanlah yang menimbulkan kesadaran itu, saya menyesal," kata Meeng mengenang pekerjaan dia sebelumnya.
Dia benar-benar mengerti dan menyadari, orangutan serta makhluk hutan lainnya membutuhkan tempat tinggal yakni di hutan. Kalau hutan rusak, kemana mereka harus pergi, kata Meeng. "Seperti kita manusia, kalau rumah kita dirusak tentu kita akan marah. Begitu juga orangutan dan binatang lainnya yang hidup di hutan," katanya.
Walaupun gaji yang diterima ranger besarnya sama yaitu Rp 100.000,00, mereka tetap mencintai pekerjaan itu. Selain itu mereka mendapat jatah makanan seperti beras, ikan, susu, kopi, teh dan sayuran sekali seminggu, yang diantarkan ke tempat tugas masing-masing bersamaan dengan suplai makanan untuk orang utan.
Untuk menambah pendapatan dalam menghidupi keluarga, mereka membuat beberapa benda seni untuk sovenir yang dijual kepada pengunjung seperti patung, sumpit, gelang dan cincin.
Andreas --ranger-- di Camp Leaky, membuat patung orangutan dari kayu ulin yang dibelinya di Kumai. Patung orangutan setinggi sekitar 15 sentimeter, bisa laku 50 dolar AS atau sekitar Rp 115.000,00 apabila dijual kepada wisatawan mancanegara.
Sementara Meeng, Surian dan Sugeng, membuat gelang dan cincin dari serat kayu yang harganya antara Rp 2.000,00 sampai Rp 5.000,00. Tetapi tidak jarang, benda-benda itu hanya diberikan kepada pengunjung terutama yang menamu ke tempat tinggalnya. Membuat satu gelang, dia hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit. Sementara ngobrol dengan tamu, gelang atau cincin selesai dianyamnya dan diberikannya sebagai kenangan kepada tamu bersangkutan.
Ketiganya mengaku sangat senang apabila banyak pengunjung dan lebih senang lagi bila datang ke tempatnya sambil. Menurut mereka ada kesan tersendiri dan mendalam, apabila tamu berkenan mampir ke rumahnya dan meminum air yang disuguhkan.
"Kami bangga, tamu sudi mampir ke rumah," kata Meeng sambil memasukkan cincin warna hitam karyanya ke jari manis seorang tamu.
Senin, 03 Maret 2008
Panorama Tanjung Puting (V)
Proses Peliaran Terkesan Lambat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar