SEBENARNYA Taman Nasional Tanjung Puting tidak hanya terletak di Kabupaten Kobar, sebagian kawasan itu juga berada di Kabupaten Kotawaringin Timur dalam wilayah Kecamatan Pembuang Hulu, Sembuluh dan Seruyan Hilir.
Tetapi lebih dulu terkenal berada di daerah penghasil kecubung itu, dengan Prof Birute Galdikas dan Rod Brindamour --warga Amerika-- yang melakukan penelitian orangutan di daerah itu pada tahun 1971 melalui Research and Conservation Project.
TNTP kini mempunyai areal seluas 415.040 hektare berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 687/Kpts-II/1996 tanggal 25 Oktober 1996. Sebelumnya, Tanjung Puting hanyalah kawasan hutan.
Pada 14 Oktober 1982, Menteri Pertanian mengumumkan kawasan itu sebagai Taman Nasional Tanjung Puting dengan luas areal 355.000 hektare.
Di kawasan itu terdapat lebih dari 600 spesies tumbuhan, 200 spesies [yang diketahui] anggrek, 28 spesies mamalia termasuk bekantan [nasalis larvatus], owa-owa [hylobates muellery] dan kelasi merah [presbytis rubicunda] serta orangutan [pongo pygmeus].
TNTP terkenal karena orangutannya dan layaknya sebuah kerajaan, dengan 'rajanya' bernama Kosasih. Seekor orangutan jantan yang kini berusia sekitar 30 tahun tetapi tenaganya lebih kuat dari enam lelaki dewasa.
Menurut beberapa ranger [petugas lapangan], Kosasih 'memerintah' di TNTP sejak 1992, setelah mengalahkan 'raja' terdahulu Yayat yang kini berusia sekitar 32 tahun.
Dia orangutan terbesar dan terkuat di TNTP. Semua orangutan di sana yang jumlahnya antara 1.080 sampai 1.800 ekor itu sangat takut kepadanya. Bahkan Yayat sendiri yang badannya lebih kecil, apabila bertemu Kosasi selalu menghindar dengan secepat kilat menghilang ke dalam rimbunnya pepohonan.
Karena menjadi 'raja', sangat jarang pengunjung bisa bertemu Kosasih. Bahkan ranger sekalipun. "Dia jarang datang ke camp, kecuali ada keberuntungan baru bisa bertemu Kosasih," kata Alan --ranger-- di Tanjung Harapan. Begitu juga dengan Yayat yang jarang menampakkan diri, karena takut bertemu Kosasih.
Meski demikian, orangutan di TNTP selalu berteman minimal dua ekor walaupun bukan pasangan betina dan jantan. Hal itu sesuai dengan kebiasaan hidup orangutan dalam kelompok kecil.
Yang patut direnungkan dari sisi kehidupan liar orangutan dan sangat menarik adalah pengertian sesama mereka.
Betapapun liar dan ganasnya jantan orangutan termasuk 'raja' Kosasih dan rivalnya Yayat, tidak akan pernah menggangggu betina yang hamil atau menggendong bayi. Seperti sebuah etika yang yang berlaku bagi penghuni rimba yang gerak geriknya mirip manusia itu.
Betina orangutan melangsungkan perkawinan setelah berusia delapan tahun, bersamaan dengan masa disapih oleh induknya. Setelah usia anak terdahulu mencapai delapan tahun, dia bisa hamil lagi. Memang di TNTP ada beberapa anak orangutan yang memiliki ibu, yaitu berasal dari sitaan Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam untuk diliarkan kembali. Itu pun mereka hidup selalu berdua.
Juga ada bayi orangutan yang yatim piatu di Pondok Tanggui. Bayi yang belum memiliki nama itu menjadi anak angkat Rosemary, orangutan betina yang belum pernah kawin meski usianya sudah delapan tahun.
Dalam mengangkat anak, orangutan juga memilih yang bisa diambil --yang tidak punya induk tentunya. Tidak sembarang bayi bisa dijadikan anaknya, yaitu hanya yang benar-benar disenanginya.
Biasanya, orangutan tidak terlalu mengutamakan anak angkatnya. "Itulah susahnya, makanan yang diberikan lebih penting untuk dirinya sendiri. Sementara air susunya tidak ada untuk anak angkat," kata Kepala TNTP Herry Djoko Susilo yang ditemui di ruang kerjanya di Kumai.
Manusiawi
Orangutan di TNTP kelihatan cukup manusiawi. Seolah membenarkan teori Darwin yang menyebutkan manusia berasal dari kera.
Mereka sangat senang kepada setiap tamu yang datang. Tidak jarang, mereka membelai dan bermanja-manja dengan pengunjung. Bukan sebaliknya, dibelai tamu.
Gistok, misalnya. Menuju tempat feeding yang jaraknya cukup jauh di tengah hutan serta harus melangkah di antara pepohonan dan kadang-kadang meloncati pohon yang tumbang atau akar yang melintang, dia bergelayut di tangan dua tamu yang mau tidak mau harus memenuhi permintaannya.
Padahal badannya berat sekali. Tetapi dia tidak mengganggu. Bahkan di saat berjalan di hutan dia memetik bunga, satu dimakannya dan satu lagi diberikan kepada tamu dan menyuruh si tamu untuk memakannya.
"Gistok, urangutan paling bodoh dan manja," kata Surian dan Meeng. Dalam usianya yang delapan tahun itu, dia tidak bisa membuat sarang untuk tempat tinggalnya. Sementara, orangutan lain yang walaupun usianya belum mencapai dua tahun sudah bisa membuat 'rumah' sendiri.
"Bukan bodoh, malah sangat pintar. Gistok kehilangan kemampuan," kata Kepala TNTP Herry Djoko Susilo yang ditemui di ruang kerjanya di Kumai. Karena dia terlalu lama tinggal bersama manusia, sehingga kelakuannya sudah sangat mirip dengan manusia.
Itu wajar. Karena sejak bayi dia tinggal bersama sebuah keluarga di Palangka Raya. Kemudian dia diserahkan ke TNTP untuk diliarkan kembali. Selama sekitar tiga tahun dia menjalani rehabilitasi di Camp Tanjung Harapan, kemudian dipindahkan ke Camp Pondok Tanggui sejak tiga bulan lalu sampai sekarang.
Senin, 03 Maret 2008
Panorama Tanjung Puting (II)
Kosasih Raja yang Ditakuti
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar